h1

AWAL KERAJAAN ISLAM BANJAR

10 Juli 2009

1. BANJARMASIN KINGDOM
Raja-Raja Banjar, sebelumnya adalah penganut Agama Hindu. Islam Masuk ke Banjarmasin oleh Sultan Demak dari Pulau Jawa. Silsilah keturunan Raja Banjar antara lain:

(1438-1460) Raja Banjar I, Pangeran Surianata,
(suami dari Puteri Junjungan Buih)
(1460-1505) Raja Banjar II, Pangeran Surya Gangga
(1505-1530) Raja Banjar III, Puteri Kalungsu
(1530-1555) Raja Banjar IV, Pangeran Sekar Sungsang
(1555-1585) Raja Banjar V, Pangeran Sukarama
(1585-1588) Raja Banjar VI, Pangeran Mangkubumi

2. ISLAM dari DEMAK
Pangeran Mangkubumi mati terbunuh, dan anaknya Raden Samudera diselamatkan ke Kuwin di Banjarmasin. Pamannya Pangeran Temenggung naik takhta.

(1588-1595) Raja Banjar.VII.Pangeran Temenggung.

Tetapi, setelah Raden Samudera dewasa, ia diangkat jadi Raja oleh pengikut-pengikutnya yang berkediaman di Patih di Banjarmasin. Pangeran Temenggung mengirim 30.000 tentara, tetapi ditahan oleh Pangeran Samudera, dan mundur hingga ke Berangas Alalak.

Diutuslah Patih Balit ke Sultan Demak di Jawa untuk minta bantuan, tetapi Sultan Demak mengatakan ia akan mengirim bantuan jika pangeran Samudera beserta pengikutnya mau masuk Agama Islam.

Pangeran Demak mengirim 100 bantuan beserta Penghulu Khatib Dayyan untuk mengislamkan Pangeran Samudera beserta pengikutnya. Akhirnya Pangeran Temenggung menyerah dan Raden Samudera menjadi Raja. Itulah peristiwa Islam masuk ke Banjarmasin……. Dari Demak Pulau jawa.

Dan itulah satu contoh Rahmatan Lil’aalamiinnya Islam. Betapa tidak semua orang Kalimantan yang muslim berterima kasih kepada Sultan Demak dari Pulau Jawa.

1595-1620) Raja Banjar ke VIII, Pangeran Samudera , kemudian berganti nama dengan Sultan Suriansyah. (Raja Islam Pertama di Banjarmasin, Kalimantan).
(1620-1642) Raja Banjar IX, Sultan Rahmatullah
(1642-1650) Raja Banjar X, Sultan Hidayatullah
(1650-1678) Raja Banjar XI, Sultan Mustainbillah
(1678-1685) Raja Banjar XII, Sultan Inayatullah
(1685-1700) Raja Banjar XIII, Sultan Sa’idillah
(1700-1745) Raja Banjar XIV, Sultan Tahlilillah
Pada masa ini lahir :
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710 atau 1122 H)

(1745-1778) Raja Banjar XV, Sultan Tamjidillah
Sultan ini yang membiayai Muhammad Arsyad ketika masih menuntut ilmu di Mekkah, Madinah dan Mesir.
(1778-1808) Raja Banjar XVI, Sultan Tahmidillah
Pada masa ini Muhammad Arsyad telah kembali ke Banjarmasin.
(1808-1825) Raja Banjar XVII, Sultan Suleman
Pada masa ini Syekh Muhammad Arsyad wafat, 6 Syawwal 1227 atau 1812.M.
(1825-1857) Raja Banjar XVIII, Sultan Adam Alwasik Billah.
(1857-1859) Raja Banjar XIX, Pangeran Tamjidillah II.

Tanggal 11 Juni 1860 M, hapuslah Kerajaan Banjar, karena ada Proklamasi 11 Juni 1860 oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Keajaiban Pada
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Kelahiran Muhammad Arsyad (Kalampayan I)

Muhammad Arsyad lahir pada zaman Sultan Tahlilillah yang berkuasa di Banjarmasin antara tahun 1700 sampai tahun 1745 . Ia lahir dari sepasang insan yang nama keduanya seperti nama Ibu dan bapak Nabi SAW, yaitu Abdullah dan Siti Aminah, di sebuah desa yang disebut Kampung Luk Gabang (sekarang wilayah Kecamatan Astabul), Kabupaten Banjar.

Abdullah dan Siti Aminah dari Banjar ini, telah lama tidak dikaruniai keturunan. Dengan banyak tahajjud, akhirnya ia memperoleh anak. Itulah anak satu-satunya Arsyad Kalampayan.

Pada usia 6 bulan dalam kandungan, ibunya Aminah bertemu malam Qadar (Lailatul Qadar) tanggal 21 Ramadhan. Pada waktu itu mereka berdo’a agar anak yang lahir dan keturunannya kelak dikarunia Tuhan dengan petunjuk dan bimbingan, menjadi anak sholeh dan alim serta selalu menyiarkan agama serta hidup penuh jasa kepada ummat manusia. Pada malam Kamis, jam 3 pagi, tanggal 13 Syafar 1122 H atau 1710, yaitu 10 tahun sudah Sultan Tahlilillah berkuasa, lahirlah Muhammad Arsyad , he is The Kalampayan I.

Jalan ke Istana
Sejak umur 8 tahun, ia telah melihatkan ciri yang aneh. Lain dari lingkungan kebanyakan anak-anak. Jujur, Ta’at, dan Patuh serta pandai mengukir, melukis pemandangan di kertas dan papan.

Suatu hari, Sultan Tahlilillah berjalan-jalan di desa kelahirannya. Ia melihat anak yang pandai luar biasa itu. Maka dimintalah oleh Sultan kepada kedua orang tuanya, agar anak itu dibawa ke Istana, untuk diberi ilmu. Begitu ceritanya. Dengan hati yang berat, akhirnya kedua ayah bundanya melepas buah hatinya untuk berpisah tinggal dengan mereka, demi tercapainya cita-cita yang luhur.

Air mata pun berderai, ……………………
tangis isak pun tak tertahan, …………….
melepas anak sibirang tulang………. …..
si buah hati nan seorang, ………………..
Seperti dinazarkan dalam do’a ………….
ia harus berjuang dalam agama. ………..
Kini saa’t perjanjian telah tiba……………
Perintah Sultan hendak membawa. …….
Akhirnya…………………………………….
Air mata pun berderai……………………..
Taqdir sudah dituliskan……………………
Suratan tangan tak dapat ditolak.

Janji Sultan
Sultan Tahlilillah gembira sekali terhadap anak angkatnya yang khatam Al-Quran dalam waktu singkat. Ternyata ia anak kecil yang mempunyai kecerdasan luar biasa. Semua pelajaran mudah dihafal dan terus melekat dalam ingatan.

Maka Sultan pun berjanji akan menyekolahkan dia ke negeri Mekkah, guna menimba ilmu sebanyak-banyaknya atas biaya Kerajaan. (Lihat Kerajaan Banjar).

Mimpi naik ke Langit

Dan suatu pagi, seorang Menteri terbangun dari tidurnya, dan kebetulan terlihat olehnya tubuh Muhammad Arsyad terangkat dari tempat tidur. Lebih kurang sehasta tingginya. Dengan cepat sang Menteri merangkul tubuh Muhammad Arsyad. Maka tangispun berderai, ketika ia menceritakan bahwa ia mimpi diajak orang naik ke langit, dan waktu bersama naik, tiba-tiba ia terbangun, karena dirangkul.

Bertemu Malam Qadar

Pada umur 30 tahun ia dikawinkan dengan wanita istana yang terkenal shaleh dan ta’at, bernama Bajut. Sa’at ia berbulan madu dengan isterinya, pasangan ini menemukan kembali malam qadar, persis seperti ayah bundanya menemukan sebelumnya.
Pada waktu itulah Muhammad Arsyad berdo’a untuk diri dan keturunannya agar diberi karunia, ilmu yang berguna dunia dan akhirat.

Janji Sultan ditunaikan
Pada sa’at isterinya Bajut sedang mengandung berat, tibalah sa’at yang tidak dapat dielakkan.

Janji Sultan !

Muhammad Arsyad Bertolak ke Mekkah

Muhammad Arsyad bertolak ke Mekkah untuk menunaikan ibadat haji dan tugas belajar di sana. Dengan tangis dan derai air mata sang isteri melambaikan tangan dan berpesan kepada suami tercinta, kalau menuntut ilmu di negeri Mekkah, tuntutlah, dan jangan kepalang tanggung, dan semua yang sudah diniat tunaikanlah dengan sempurna.

Tak seorangpun dapat mengerti mengapa Muhammad Arsyad pergi selama 35 tahun tanpa kembali.

Tiga puluh lima tahun ?

Selama 30 tahun bermukim di Mekkah tanpa kembali. Ia telah mendapat 35 macam ilmu pengetahuan yang meliputi pengetahuan Agama dan pengetahuan umum.

Demikian Muhammad Arsyad, dibawah bimbingan guru besarnya Syekh Atho’illah, ia kemudian mendapat gelar maha guru di bidang Hukum Syari’ah. Disamping ia aktif belajar, ia telah diperkenankan mengajar memberikan fatwa di Masjidil Haram.

Muridnya Seorang Jin
Dari sekian muridnya di Masjidil Haram, terdapat makhluk Ilaahi yang bukan dari golongan manusia. Makhluk tersebut dari golongan Jin Islam yang bernama Al-Badakut Al-Mina. Jin Islam inilah muridnya yang paling setia, hingga ikut sampai ke tanah air (Indonesia), yang oleh masyarakat Martapura disebut Datuk Boddok. Ia MUNCUL DI SISI GURUNYA PADA TIAP PERSIDANGAN MUSYAWARAH.
Teman Seperguruan
Teman seperguruannya yang sangat akrab selama menuntut ilmu di Mekkah ialah :
1. H.Abd.Samad dari Palembang (Sumatera Selatan)
2. H.Abd Wahab Bugis dari Pamngka Je’me Sidenreng (Sulawesi Selatan)
3. H.Abd.Rahman Masri dari Jakarta (Jawa)

Mereka terkenal dengan sebutan Empat Serangkai. Empat serangkai ini mengadakan ikrar bersama, mereka tidak akan kembali ke tanah air (Indonesia), sebelum berkunjung ke negeri Mesir untuk menambah ilmu.

Maka merekapun melakukan perjalanan darat ke Mesir melalui Madinah. Di Madinah, mereka bertemu dengan Syekh Muhammad Suleman Al-Kurdi yang baru datang dari Mesir. Maka Empat Serangkai inipun menimba ilmu melalui guru besar itu.

Menurut catatan dari Alm Alimul Fadhil H.Isma’il Tuan Guru Tuha di Kampung Dalam Pagar Martapura, bahwa pada masa 4 serangkai di Madinah, mereka tinggal di rumah ulama besar Madinah, yaitu Syekh Abdul karim Summan Madani.

Selama kurang lebih 5 tahun di Madinah, mereka melanjutkan perjalanan ke Mesir. Tetapi atas nasehat guru besarnya yang dari Mesir itu, maka 4 serangkai kembali ke tanah air.

Di Madinah, dua di antaranya yaitu Muhammad Arsyad dan Abd Samad dari Palembang, sempat belajar ilmu SULUK untuk diri mereka. Setelah itu merekapun kembali ke Mekkah.

Menjelang menunggu kapal, Muhammad Arsyad menemukan kembali malam qadar di Mekkah, di sisi Ka’bah. Di sanalah ia bermunajat mohon taufiq dan hidayah Nya agar dilimpahkan ‘ilmu yang bermanfa’at untuk kehidupan dunia dan akhirat, bagi diri dan keturunannya.

Pulang ke Tanah Air

Tiga puluh lima tahun sudah kampung halaman ditinggal. Tiga puluh tahun di Mekkah, dan lima tahun di Madinah. Maka pada tahun 1186 H atau 1772, pulanglah 4 serangkai ke tanah air.

Pulang ke tanah air, mereka singgah di Jakarta (Batavia). Muhammad Arsyad tinggal selama 2 tahun di rumah H.Abd Rahman Masri.

Masyarakat Jakarta menyambut mereka dengan upacara yang luar biasa.
Segenap ulama di Jakarata yang diketuai oleh Syekh Abdul Qahar menerima kedatangannya dengan gembira.

Membetulkan Kiblat Masjid
Berkunjung ke beberapa Masjid di Jakarta, Muhammad Arsyad sempat membetulkan kiblat beberapa Masjid, antara lain :

1. Masjid Pakojan
2. Masjid Luar Batang Pasar Ikan

Keanehan yang luar biasa dari beliau ialah dengan mempersilahkan para hadirin pada waktu itu untuk melihat dari celah lobang tangan bahunya. Konon riwayatnya ketika dilihat dari celah lobang baju jubahnya itu tampak dengan jelas baitullah (Ka’bah) sebagai arah kiblat, seperti kita melihat TV sekarang.

Tiba di Kampung Halaman

Ramadhan 1186H, atau 1772M, tibalah Muhammad Arsyad di Martapura, disambut oleh Sultan Tajmidillah beserta kegembiraan rakyatnya. Di sisi lain kegembiraan itu, Muhammad Arsyad tafakkur sedih mengenang ayah bundanya dan ayah angkatnya yang telah tiada, yaitu Sultan Tahlilillah.

Kita tidak bisa membayangkan kesabaran isterinya.

Tanah Pesantren

Ketika Muhammad Arsyad telah menikah dengan Ratu Aminah binti Pangeran Thoha bin Sultan Tahmidillah, maka oleh Sultan Tahmidillah, ia dihadiahi sebidang tanah untuk semua anak isteri dan cucu-cucunya

Di tempat itulah Muhammad Arsyad membuat komplek perumahan seperti pesantren keluarga. Bangunan sebelah Timur rumah pertama untuk isterinya Mardikah, rumah kedua isterinya Guwat (keturunan Cina). Seterusnya ada sebuah Masjid untuk melakukan sholat berjama’ah. Rumah ketiga untuk isterinya Rayu Aminah bin Pangeran Thoha. Ada pula bangunan yang merupakan Balai Perpustakaan dan tempat mengajar. Rumah keempat untuk isterinya yang tertua Bajut.

Kampung Dalam Pagar

Rumah untuk anak-anak dan cucu-cucunya semua di belakang. Dan akhirnya kompleks perkampungan tersebut terkenal dengan nama Kampung Dalam Pagar. Itulah tempat Pusat Syi’ar Agama Islam di Kalimantan Selatan.

Orang berbondong-bondong datang menimba ilmu ke Kampung Dalam Pagar. Nama Dalam Pagar ini pun ada kisahnya yang menarik. Bukan saja di sana diperlakukan hukum qishosh, tetapi suasananya persis seperti di Mekkah. Semua orang yang melanggar, dikeluarkan dari kampung itu. Tempat itu menjadi tempat teramat sakral sampai sa’at ini.

Kabarnya dulu, pernah ada orang jahat menyerang kampung pada waktu Maghrib. Oleh Muhammad Arsyad dibacakan surat Ya Sin. Maka dengan serta merta sisi kampung itu terpagar dengan tembok yang tangguh. Hal itu terjadi berulang kali, sehingga orang sekitar kampung menyebutnya dengan nama Kampung Dalam Pagar. Mungkin itu sebabnya kebanyakan anak cucunya sekarang hafal surat Ya Sin. Tetapi phenomena tembok itu mungkin berasal dari ayat 9 pada surat Ya Sin sendiri

Ayat itu artinya :
“ Dan kami jadikan di hadapan mereka dinding”

Api Islam

Itulah tempat yang pernah hidup Api Islam. Tempat ini perlu dilestarikan. Perlu undang-undang untuk memeliharanya, sebagai tempat istimewa. Dan sejarahnya perlu diangkat kembali ke permukaan. Bagaimana perjuangan seorang penyebar kebaikan. Bagaimana seorang tabah menanti. Bagaimana seorang tabah menahan rindu. Rindu keluarga, rindu tanah air. Bagaimana seorang mampu mewaris. Memadukan antara yang kuat dan yang benar. Memadukan yang lemah dan yang benar. Berjuang dan berjuang.

Sampai kini, ilmu agama yang diajarkan di surau-surau, terutama di Nusantara, kebanyakan dari buku Parukunan Melayu. Buku praktis tulisan cucunya yang bernama Fatimah, tetapi dengan suka hati buku parukunan Melayu itu diberi nama penulis dengan nama paman mudanya Mufti H.Jamaluddin.

Pada masa itu Muhammad As’ad cu

cunya telah dapat mengajar kaum pria, sedangkan Fatimah mengajar kaum wanita.

Itulah Api Islam yang pernah menggairahkan kehidupan di Kalimanatan Selatan.

Buku-buku tulisan Muhammad Arsyad.
Buku yang ditulis sendiri oleh Muhammad Arsyad, ialah :

1. Usuluddin, membicarakan masalah tauhid
2. Kitabun Nikah, membicarakan masalah perkawinan
3. Kitab Faraidh, membicarakan masalah waris
4. Tuhfatur Ragibin, membicarakan golongan-golongan
5. dan lain-lain, tetapi yang terkenal ialah SABILA MUHTADIN.
6. Dalam bahasa Arab, mengisahkan Kitab Syarah Fathul Jawad karangan Ibnu Hajar, tetapi belum sempat diterbitkan.

Kembali ke Rahmat Allah dalam usia 102 tahun.

Dalam jangka 40 tahun menyebarkan agama Islam setelah kembali dari Mekkah, maka pada hari Selasa jam 6.30 sore tanggal 6 Syawwal 1227 H atau 1812 M, ia kembali ke rahmat Allah dalam pangkuan isterinya Ratu Aminah dan Guwat di Kampung Dalam Pagar, pada usia 105 tahun hitungan Hijriah, atau 102 tahun hitungan Syamsiah, setelah mengidap penyakit tekanan darah tinggi, pada sa’at melakukan da’wah di Kampung Pingaran.

Di sa’at wafat, isteri yang masih hidup ada 3 orang, yaitu Ratu Aminah, Guwat dan Mardikah, serta dihadiri oleh anaknya yang perempuan sebanyak 5 orang yaitu Sa’idah, Aziah, Hafsah, Safiah, Syarifah. Dan dipihak anak laki-laki yang menghadiri pemakaman jenazah ialah 10 orang, yaitu Abd Rahman,Fadhil Abd Rahim, H.Jamaluddin, H.Akhmad dan Salman.

Jenazahnya dikebumikan di Kampung Kalampayan, tanah perkebunannya sendiri. Generasinya menyebar sampai ke luar negeri, Malaysia, dan Thailand. Hampir semua memberikan kesan orang yang memegang agama dengan tangguh.

Yang menarik dari generasinya, ialah diwarisinya para penulis dan pelukis, termasuk penulisan kejadian-kejadian ini dan silsilah, seperti Syajarul Arsyadiah tulisan Mufti H.Abd Rahman Siddik, atau Suluh Sejarah Kalimantan tulisan Amir Hasan Kiyai Bondan, dan Catatan Alm Alimul Fadhil H.Isma’il Tuan Guru Tuha Kampung Dalam Pagar, Ulama Besar kalimantan, tulisan Yusuf Halidi dan lain-lain.

Dan yang menarik menjelang abad 21 adalah generasi ke 6 yang menulis Buku One Million Phenomena dan Pelukis Gambar Bumi dalam Bukunya Bumi itu Al-Quran. (Flying Book yang diedar lewat internet).

Muhammad Arsyad Al-Banjari
dengan 11 isteri dan 31 anak:

I
Bajut + Muhammad Arsyad
1. Syarifah (sebelum ke Mekkah)
2. Aisyah (kembali dari Mekkah)
II.
Bidur + Muhammad Arsyad
3. Qadhi H. Abu Su’ud
5. Qadhi H. Abu Na’im

4. Sa’idah
6. Khalifah H. Syahabuddin
III.
Lipur + Muhammad Arsyad
7. Abdul Hasan
9. Alimul Fadhil H. Abdullah
11. Alimul Fadhil

8. Abun Najib
10. Abd Rahman
12. Abd Rahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: