h1

Jordania Oasis di Padang Gurun

12 Oktober 2009

1Jordania adalah negara yang banyak menyimpan peninggalan dari sebuah peradaban tua. Menelusuri negara ini, sama dengan membuka kembali lembaran sejarah masa silam.Negeri ini seolah membawa kita ke masa dimana manusia ribuan tahun lalu sudah mengenal peradaban yang cukup maju. Dan negeri ini juga adalah tanah dimana para rasul pernah pernah menjejakan kakinya. Dia menjadi oasis di sebuah kawasan yang panas dan kerap berkecamuk perang.Jordania adalah negara kecil yang letaknya sangat strategis dan menjadi jembatan antara Afrika, Asia dan Eropa. Begitu strategis, sehingga banyak bangsa berusaha menguasainya.9500 tahun lalu, manusia sudah membangun peradaban di sini. Dan kini Jordania adalah sebuah negara maju di kawasan Timur Tengah dengan pengaruh barat yang cukup kuat.Denyut kehidupan malam di Kota Amman, Ibukota Jordania rasanya tidak ada bedanya dengan kota-kota besar di Eropa. Ratusan restoran dan kafe menjamur, menawarkan minuman ringan hingga beralkohol.Pemandangan seperti ini sulit di temui di negara Arab yang masih memegang tradisi kuat. Mereka, para wanita menikmati kelonggaran-kelonggaran yang belum tentu dinikmati wanita di negara tetangga. Mereka menyukai gaun impor buatan Perancis ataupun Italia, atau kegemaran mereka menikmati nargilla, tradisi merokok khas Timur Tengah.

Nargila datang dari Turki sekitar lima ratus tahun lalu. Kebiasaan merokok ini menjadi populer di negara-negara Arab. Nargilla biasanya di sediakan di restoran-restoran, dan menikmatinya sesudah makan.

Gaya kehidupan barat seolah tidak ada masalah. Sebaliknya mereka yang tidak menyukainya, mencap negeri ini paling sekuler di Timur Tengah. Namun tunggu dulu. Islam tetap menjadi nafas dari bangsa ini. Sembilan puluh persen penduduk Jordania, adalah penganut taat Islam Sunni.

Belakangan kesadaran Islam mulai bangkit. Ini berbeda sebelum tahun 1980, dimana sebagian besar penduduk cenderung melihatnya sekedar ajaran, yang jauh dalam praktek-nya sehari-hari.

Kini wanita sudah tidak canggung lagi mengunakan jilbab. Dan kaum pria-nya kini merasa lebih gagah dengan memelihara jenggot. Enam puluh persen dari enam juta penduduk Jordania adalah keturunan Arab Palestina.

Mereka umumnya pengusaha dan pekerja sukses. Jordania memiliki sumber alam yang sangat terbatas. Minyak bumi dan air mereka harus impor dari negara lain. Tentunya ini sangat rawan, karena stabilitas kawasan tidak bersahabat.

Pariwisata – lah yang menjadi andalan untuk menopang perekonomian. Semenjak negeri ini menandatangani perdamain dengan Israel pada tahun 1994, wisatawan memang mulai mencintai negeri ini.

Keamanan memang mahal, dan itulah yang harus dibayar negeri ini, kendati mendapat kecaman dari negara tetangganya.

Jejak Islam di Jordania

Mengunjungi Jordania, seolah masuk ke dalam museum raksasa yang menyimpan bukti-bukti masa lampau. Wisatawan sebagian besar datang untuk berziarah dan menyaksikan peninggalan Islam dan kebudayaan masa silam.

Kota Amman akan membawa kita masuk kembali ke kehidupan masa lampau. Kota ini adalah kota penting di Timur Tengah untuk kegiatan bisnis, namun ia juga menjadi saksi dari jatuh bangunnya peradaban di masa lalu.

Puing-puing peradaban itu masih ada kawasan Citadel yang berada di jantung kota Amman. Para arkeolog pada tahun 1994 menemukan banyak peninggalan penting yang menunjukan sudah ada peradaban pada jaman batu, sekitar 7000 sebelum masehi.

Empat imperium pernah menguasai kota ini. Suku Ammon, sekitar 1200 sebelum masehi, kemudian Yunani kuno, sekitar 585 sebelum masehi, kemudian Romawi, Bizantium, Bani Umayah hingga Ottoman Turki.

Banyak peninggalan Romawi, sekitar tahun 30 sebelum masehi yang masih bisa disaksikan di sini, seperti Candi Hercules.

Bangunan ini sangat luas, sehingga mengalahkan bangunan serupa di Roma – Italia sendiri. Arsiteknya sengaja membangunya untuk menghormati Kaisar Marcus Aurelius sekitar tahun 170 sebelum masehi.

Citadel mempelihatkan bagaimana hebatnya Romawi membangun kota ini dengan berbagai sarana, seperi jalan yang rapi, dan bangunan- bangunan publik. Termasuk amphiteater, atau forum odeon dengan kapasitas enam ribu tempat duduk. Sulit dibantah, imperium romawi telah membawa Amman hingga ke puncak kejayaannya.

Tahun 635 masehi, pasukan Islam yang dipimpin, Khalid Ibnu Al Walid, akhirnya merebut Amman dari kekuasaan Bizantium dalam sebuah pertempuran yang terkenal, pertempuran Yarmouk.

Istana ini adalah tempat bertahtanya pemerintahan Bani Ummayah yang dibangun tahun 720 – 750 masehi. Ini salah satu peninggalan awal Islam yang masih bisa kita saksikan.

Pada abad ke sembilan belas, Otoman Turki membangun kembali Amman setelah mengalami kemunduran panjang. Salah satu peninggalan Otoman Turki adalah Masjid Al Husein yang hanya beberapa ratus meter bangunan teater Odeon.

Turki membangun kembali masjid ini pada tahun 1924. Sebelumnya di atas bangunan ini berdiri masjid yang dibangun Khalifah Umar Bin Khatab pada tahun 640 masehi.

Masjid Al Husein ini menjadi salah satu bangunan tertua yang menjadi kebanggaan rakyat Jordania.

Jordania yang panas dan kering adalah tanah dimana para nabi pernah menjejakan kakinya. Di kota Salt/, sekitar 30 kilometer dari kota Amman, berdiri masjid Wadi Shuayib. Di sini terbaring jasad Nabi Sueb.

Tidak ada peziarah yang datang mengunjungi makam ini, seperti yang kerap terjadi di Indonesia, karena ada larangan untuk mengkultuskan makam ini.Selain Sueb, tanah Jordania, juga menjadi makam sejumlah nabi lain seperti, Harun, Yusak, Ayub, Sulaiman dan Nabi Yahya.
24Tidak hanya makam, gua tujuh pendengkur adalah situs yang cukup menarik. Di gua ini, tujuh pemuda dan seekor anjing tertidur bersembunyi dari kejaran para penyembah berhala.

Di kitab suci Al Qur’an, dalam Surat Al Kahfi, mereka kemudian tertidur pulas selama 300 tahun, mereka, lalu bangun setelah peradaban telah berganti. Gua ini dinamakan juga gua Al Kahfi.

Laut Mati, adalah keajaiban alam yang hanya ada di negeri ini. Di sinilah tempat paling terindah di seluruh dataran Eropa dan Asia, yakni sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Israel.

Sejak ribuan tahun, Laut Mati sudah menarik perhatian banyak orang. Nabi Daud sangat menyenangi tempat ini dan pernah menetap untuk sekian waktu. Air di danau ini sangat asin, keasinannya tujuh kali lipat dari air laut yang ada dipermukaan bumi ini.

Tidak sedikit yang datang ke sini untuk melakukan terapi, karena air mengandung kadar zat kimia, seperti magnesium dan bromida yang sangat tinggi.

Raja Herodes, yang hidup dua ribu tahun silam mempercayai ini. Ia bahkan membangun tempat peristirahatan di sini, untuk mengobati penyakitnya.

Salah satu terapi yang populer adalah balneoterapi, yakni membalur tubuh dengan lumpur yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Kadar garam yang begitu tinggi, menyebabkan tubuh mengapung.

Danau ini terbentuk jutaan tahun silam, ketika dataran Afrika memisahkan diri dari dataran Turki dan kawasan Timur Tengah.

Laut Mati ini tetap menjadi daya tarik, kendati eksploitasi mineral di sini sudah melewati ambang batas, sehingga menyurutkan air di danau setinggi tiga kaki setiap tahun. Namun semua itu, tidak menyurutkan keyakinan jutaan orang akan mujizat air ini.

Reruntuhan ini adalah bekas kota yang bernama Jerash yang terletak sekitar 20 kilometer dari kota Amman. Sejak era neolitikum, Jerash sudah dihuni manusia, dan berkembang menjadi pusat perdagangan pada jaman Yunani kuno.

Semasa pemerintahan Romawi, tahun 63 sebelum masehi, Jerash mengalami jaman keemasannya. Ia merupakan satu dari sepuluh kota yang dibangun imperium Romawi di wilayah kekuasaannya di Palestina, Suriah, dan sebelah utara Jordan ini.

Jerash menjadi kota perdagangan yang sibuk. Ribuan tahun lalu hiruk pikuk Karavan yang mengangkut komoditas melewati jalan utama ini. Anda bahkan masih bisa melihat jejak roda karavan yang masih membekas.

Peninggalan lain yang membuat membuat takjub adalah Forum. Romawi membangun Forum sebagai tempat untuk berdagang. Bisa jadi tempat ini dahulunya adalah pasar besar. Pilar-pilar Ionic ini dibangun sebagai atap untuk menutupi lapak-lapak para pedagang.

Terlupakan, Namun Tidak Hilang ……

Reruntuhan ini memperlihatkan bagaimana Romawi merancang kota ini dengan baik. Namun jaman berubah. Kapal-kapal besar menggantikan Karavan, dan Jerash perlahan namun pasti akhirnya mengalami kemunduran hingga pada puncaknya ketika Islam masuk pada tahun 636 masehi.

Perdagangan sejak dahulu memang menjadi urat nadi di kawasan ini. Bahkan jauh sebelum bangsa Romawi datang, para pedagang Arab, yakni Suku Nabatean, lebih dari dua ribu tahun lalu, sudah menguasai jalur perdagangan di kawasan Jordania.

Dan Suku Nabatean mewariskan Petra, sebuah kota yang dibangun dari batu. Sebelum masuk, Anda harus melewati celah bukit sepanjang satu koma dua kilometer. Celah ini bernama Siq.

Cukup jauh dan melelahkan bila harus berjalan kaki. Biasanya pengunjung menyewa kereta kuda. Celah diapit bebatuan keras yang tingginya hingga delapan puluh meter. Mereka namakan Siq. Gempa yang sangat kuat, telah memecahkan bukit batu.5

Keamanan, adalah alasan Suku Nabatea membangun Petra. Di dinding batu ini menjadi benteng pelindung, sehingga membuat musuh harus berpikir dua kali untuk menyerang kota ini.

Petra adalah simbol dari kejeniusan kejayaan Suku Nabatea ribuan tahun lalu yang membangun kota dengan cara memahat batu cadas.

Tibalah di Khasneh yang berada di ujung celah. Rasa lelah para wisatawan, berganti dengan decak kagum. Kahsneh adalah makam untuk Raja Nabatea, Hartih ke empat yang tutup usia pada tahun 85 sebelum masehi.

Khasneh tingginya sekitar 45 meter dan lebar 30 meter, dan terdiri dari dua tingkat. Di lantai atas, di bagian tengah adalah Tolos. Banyak yang percaya di dalam Tholos, masih tersimpan harta karun curian.

Tahun 106 sebelum masehi, Romawi merebut Petra dari tangan Suku Nabatean. Sejak itu, denyut kehidupan di kota ini, merosot, lalu ia hilang ditelan zaman. Petra ditemukan kembali oleh petualang asal Swiss, Johan Burckhardt pada tahun 1812, dan sejak itu, dunia pun mulai mengenalnya.

Jutaan wisatawan mengunjungi tempat ini, untuk melihat keajaiban yang dibuat sebuah suku pada ribuan tahun lalu. Bahkan tokoh terkenal Indiana Jones memanfaatkan tempat ini, dalam petualangan terakhirnya, Indiana Jones and The Last Crusades.

Petra adalah kini menjadi aset yang tak ternilai. Badan PBB, Unesco meminta dunia untuk menjaga dan memelihara Petra, sebagai harta tak ternilai yang harus diwariskan ke anak cucu. (Suprie)


Sumber: Indosiar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: